I made this widget at MyFlashFetish.com.

Monday, February 8, 2010

1st emel masa mula2 kenal2 dulu

AMIR SYUHADA



Untuk pertama kalinya dia tumpahkan airmata kesedihannya saat usianya belum genap sepuluh tahun. Saat itu, di depan matanya dia menyaksikan kedua orang tuanya dan ratusan ribu bangsanya dibantai dan diusir dari Deir Yasin. Itulah saat pertama dia mengenal langsung kekejaman Yahudi yang selama ini hanya didengarnya dari cerita ibunya, dan saat itu pula tergambar bayang-bayang penderitaan bangsanya Kemudian tangis kesedihan itu secara beruntun menerpanya, ketika Irgun membawa satu persatu orang-orang tercintanya tanpa pernah lagi kembali. Saat dia melepas suaminya pada perang Ramadhan (1973), saat itu Amir, putera mereka, baru saja melewati satu tahun usianya. Amir masih terlampau kecil untuk memahami, ketika suatu senja seseorang datang memberitahu tentang kesyahidan ayahnya.

Sudah terbayang masa depan hidupnya, seorang janda dan seorang bayi di tengah penindasan Yahudi. Saat itu tidak ada yang ingin dilakukannya kecuali menangis. Tapi tidak, dia tidak melakukan itu. Saat itulah dia memulai tekadnya untuk tidak ingin menambah kegembiraan orang-orang Yahudi dengan airmata kesedihannya. Lebih dari itu dia tidak ingin mengajari Amir menjadi pemuda yang lemah. Dan sejak saat itu pula, setiap kesedihan yang menerpa, digubahnya menjadi senandung-senandung jihad yang dia bisikkan ke telinga Amir, hingga memenuhi rongga dada anaknya. Dia masih mampu bertahan untuk tidak menangis saat pembantaian Taal el-Zatar ataupun Sabra Shatila yang menghabisi kerabatnya yang tersisa. Masih disisakan sedikit harapan dalam dirinya demi seorang Amir putera tercintanya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan warisan paling berharga dari suaminya itu. Sekian tahun dia telah membendung tangis itu, tapi tidak untuk hari ini.

Kata-kata pemuda tampan dihadapannya telah mengikis kekukuhan benteng pertahanannya. Dicubanya untuk mengelak dan memujuk hatinya, bahawa yang didengarnya beberapa minit yang lalu hanyalah mimpi. Tapi susuk di depannnya teramat nyata untuk dia mengingkarinya. Amir Syuhada, pemuda tegap didepannya itu, satu-satu puteranya, kembali mengulang kata-katanya, "Bonda, izinkan anakanda pergi berjihad". Suara itu terdengar lembut dan penuh harap, seperti lima belas tahun yang lalu ketika Amir kecil meminta baju buat berhari raya. Tapi suara itu kini memendam sebuah tekad dan keberanian, dan dia tahu bahwa dia takkan mungkin sanggup menahan gelora itu. Wanita tua itu menarik nafas panjang menahan esak yang satu persatu saat keluar. Terasa masih terngiang di telinganya 23 tahun yang lalu, kalimat senada diucapkan suaminya. Dengan berat hati dilepasnya pemergian suaminya. Dia masih menyimpan sedikit harapan bahawa suaminya akan kembali, meskipun kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai
dengan apa yang diharapkannya. Tapi kali ini hatinya teramat berat, kerana dia tahu benar apa yang dimaksud dengan kata "Jihad" oleh Amir anaknya. Baru dua hari yang lalu Amir dengan bersemangat bercerita tentang kawan-kawannya yang syahid dalam aksi bom syahadah. Itu ertinya, dia harus menguburkan seluruh harapan akan kembalinya puteranya dengan selamat, bahkan sepotong tubuhnya sekalipun.

"Amir Syuhada" (pemimpin para syahid), perlahan diejanya nama puteranya. Nama yang diberikan oleh suaminya. Nama yang menyimpan sebuah cita-cita amat dalam. "Aku tidak berharap dia menjadi orang terkenal di dunia kerana memimpin sebuah angkatan perang, tapi aku ingin dia menjadi orang terkenal di akhirat kerana memimpin rombongan syuhada. Dia harus menjadi orang yang pertama menyambut setiap kali kesempatan jihad itu datang", begitulah harapan suaminya. Betapa cepat perjalanan hidup. Betapa cepat harapan-harapan berganti. Seminggu yang lalu, Amir dengan malu-malu mengungkap keinginannya untuk mengakhiri masa bujangnya dengan membina rumahtangga. Ya, Amir ingin menikah. Sudah terbayang seorang gadis cantik menjadi menantunya, bahkan sudah terbayang pula cucu-cucu yang akan meramaikan rumah buruknya ini. Namun kehendak ternyata berkata lain. Bukan perlengkapan nikah yang dibawa pulang puteranya hari ini. Tapi sepotong baju khusus dengan kabel-kabel di sana sini dan beberapa
bungkusan aneh yang baru kemudian dia tahu berisi bom. Esaknya mulai terdengar saling memburu. Begitupun cairan bening di matanya dibiarkannya mengalir, tanpa usaha lagi untuk menahan. Amir pun terdiam mematung. Baru ketika ibunya mulai tenang, diraihnya tangan tua itu dan digenggamnya penuh perasaan sambil berucap, "Bonda, anakanda lakukan ini kerana anakanda ingin merealisasikan apa yang selama ini menjadi doa bonda terhadap anakanda."

Sekilas wanita tua itu terhenyak mendengar pertuturan anaknya, tapi dia tetap diam tak menyahut. Amir melanjutkan ucapannya, "Bukankah bonda yang setiap malam berdoa agar anakanda menjadi anak yang soleh? Inilah anakanda yang berusaha mewujudkan harapan bonda. Bukankah bonda selalu menasihati anakanda untuk sentiasa istiqamah memegang panji dakwah ini, dan sentiasa memenuhi hidup dengan jihad dan pengorbanan? Menegakkan kalimat tauhid, melindungi kaum yang lemah, membela kebenaran dan keadilan? Bukankah bonda selalu mengingatkan bahawa kemanisan iman hanya dapat dirasakan oleh orang yang menegakkannya dalam dirinya, bahawa bahagia hanya dapat dirasakan oleh orang yang berjuang membela kebenaran dan keadilan, bahawa kemenangan dan kejayaan hakiki hanya akan diberikan pada pejuang yang telah berkorban, kuat menahan penderitaan dan kepapaan, bahawa ketabahan dan kesabaran berjuang hanya akan diberikan pada mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah? Bukankah bonda yang ber
ulangkali mengatakan hal itu? Inilah anakanda Amir yang berusaha menjalankan nasihat Bonda."

Amir mencuba untuk tetap tersenyum, sambil tangannya menggenggam telapak tua ibunya. Dulu ketika masih kecil dia suka merengek dan menarik-narik tangan itu jika menginginkan sesuatu. "Tapi aku tidak berdoa agar kamu mati," perlahan ibunya bereaksi. Dan masih dengan tersenyum Amir berucap, "Bonda...," dengan gaya merajuk Amir menyebut ibunya dan melanjutkan ucapannya, "Siapa yang mahu mati? Bonda tentu masih ingat, bagaimana ketika anakanda masih berusia 7 tahun. Jika anakanda menangis, Bonda selalu menghibur dengan cerita tentang kepahlawanan ayah, tentang keberanian ayah dalam setiap medan tempur, tentang kisah kesyahidan ayah, dan bonda selalu mengakhirinya dengan membaca ayat, Janganlah kamu mengira bahawa mereka yang terbunuh di jalan Allah itu mati, namun sesungguhnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rezeki.

Bonda, anakanda berjihad bukan untuk mati, tapi anakanda berjihad untuk syahid, untuk kehidupan yang lebih abadi." "Tapi tidak dengan bunuh diri," ibunya menukas. "Bunuh diri? Siapa yang mengatakan itu pada Bonda," terdengar nada bicara Amir meninggi, ketika sedar dengan siapa dia berbicara, kembali Amir melunakkan suaranya sambil mengulang pertanyaannya. "Siapa yang mengatakan itu pada Bonda?" tanpa menunggu jawapan, Amir melanjutkan, "Bonda.., Bonda tentu masih ingat ketika anakanda masih kecil, bonda yang selalu mengiring tidur anakanda dengan senandung jihad. Bonda yang menanam benih-benih keberanian itu dalam rongga dada anakanda, Bonda yang telah menyalakan api revolusi itu dalam jiwa anakanda. Kini hantarkanlah anakanda pergi ke medan jihad dengan senandung itu, izinkan anakanda membakar kesombongan Yahudi dengan api itu. Bonda, masih ingatkah Bonda akan senandung Khubaib bin Ady r.a. saat menjelang digantung orang-orang kafir Quraisy?

Sekiranya Allah menghendaki keberkahan dengan menghancurkanlumatkan tubuhku aku takkan peduli, asalkan aku mati sebagai muslim untuk Allah-lah kematianku pasti.

"Sungguh Bonda, jika tegaknya kalimat Allah di bumi ini harus dibayar dengan carikan- carikan tubuh anakanda, anakanda tidak akan pernah mundur. Bonda pula yang berkisah tentang kepahlawanan Ikramah dalam perang Yarmuk, ketika dia berseru, "Siapa yang sedia berjanji setia kepadaku untuk mati?" Kemudian 400 mujahidin serentak menyambutnya, dan mereka tidak mundur sejengkal pun sampai menemui kesyahidan. Inikah yang hendak bunda katakan bunuh diri...? Tidak Bonda, anakanda telah menjual diri ini pada Allah, biarkan anakanda menepati janji." Sejenak ruang itu hening. Esakan wanita tua itupun sudah lama reda, hanya genangan bening yang masih tersisa di sudut matanya. Meski tanpa harap, dicubanya untuk terakhir kali memujuk puteranya, seperti mengingatkan dia bertanya, "Bukankah beberapa waktu lalu kau telah berniat untuk menikah?" Masih dengan senyumnya, Amir menjawab, "Bonda, sekian lama anakanda belajar tentang erti sebuah cinta. Dan anakanda telah menemukan, bahawa cinta y
ang tertinggi hanyalah untuk Allah. Sekian lama anakanda memendam rindu untuk bertemu Allah, dan saat ini kesempatan itu telah datang. Sungguh Bonda, anakanda tidak ingin kehilangan kesempatan." Diucapkannnya kalimat terakhir dengan nada yang tegas.

Wanita tua itu kembali menarik nafas panjang. Ditatapnya pemuda tegap di hadapanya, seakan dia ingin memastikan bahawa pemuda di hadapannya itu benar-benar Amir anaknya. Dia sebenarnya sudah menyedari sejak lama, bahawa saat-saat seperti ini pasti akan terjadi. Dia pun tahu tak seharusnya mencegah maksud puteranya. Amir bukan lagi kanak kanak kecil yang boleh dipulas telinganya kalau nakal, atapun dipujuk dengan sepotong kuih agar tidak menangis. Amir kini telah membesar menjadi pemuda dewasa, bahkan mungkin terlalu dewasa untuk pemuda seusianya. Dia tahu bahwa kata-kata yang diucapkan Amir benar adanya. tapi dia merasa begitu berat untuk memujuk naluri keibuannya. Sejak Amir terlibat dengan berbagai aktivitas HAMAS, dia sebenarnya telah berusaha mencuba meyakinkan hatinya, bahawa Amir bukanlah miliknya.

Benar, ia telah melahirkannya, memberinya kasih sayang, tapi dia sama sekali tidak berhak mementingkan keinginannya. Benar dia telah menyerikan rumah bagi raganya, tapi tidak pada jiwanya, kerana jiwanya telah menjadi penghuni rumah masa depan yang kini sedang dirisaukannya. Amir telah menjadi milik zamannya, sejarahnya dan tentangannya.

Dia hanyalah sebatang busur, dan Amir adalah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian. Direntangkan-Nya busur itu dengan kekuasaan-Nya hingga anak panah itu meluncur jauh dan tepat. Meliuk dalam suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemahan. Sang Pemanah mengasihi anak panah yang meluncur laksana kilat, sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. Dia seharusnya gembira, 24 tahun ini mendapatkan kesempatan menyertai perjalanan sejarah Amir. Dia seharunya bangga kerana benih yang dia tanam dengan senandung-senandungnya telah tumbuh subur, dan kini saatnya berbuah. Tidak, dia tidak boleh terbawa perasaannya. Dia tidak boleh menghalangi buah yang telah ranum untuk dipetik. Di tatapnya wajah pemuda di hadapannya, sungguh tampan dan bercahaya, persis wajah as-syahid suaminya. Sorot matanya tajam, menyimpan semangat yang bergelora. Sama sekali tak ditemukan keraguan di sana.

Perlahan tangan tuanya meraba wajah itu. Wanita tua itu mencuba untuk tersenyum, ya, dia harus ikhlas. Dengan suara bergetar dia berkata, "Pergilah anakku, jangan kau risaukan bonda. Simpan kesedihan dan derita bonda jauh disudut hatimu. Jangan kau pergi jika masih ada setitik dendam, bersihkan niatmu hanya untuk meraih redha Allah. Pacakkan tinggi-tinggi panji tauhid di bumi ini. Kalau memang hanya dengan carikkan tubuhmu ia akan tertegak, bonda merelakanmu. Pergilah anakku, dan jangan kau kembali kepada bonda selama nyawamu masih tersisa..." Diciumnya dahi putera satu-satunya itu. Wanita itu tak lagi menangis.

Dilepaskannya pemergian puteranya dengan senyum keikhlasan. Matahari senja menyapu lorong-lorong Tel Aviv. Tidak ada yang memperdulikan ketika seorang pemuda tegap berjalan menghamprii sebuah pos tentera Israel. Tanpa sebarang kata-kata, Boommm..!!, tubuh pemuda itupun meledak menghantar menemui Rabbnya. Berjajar para bidadari berebut kekasih yang baru tiba, seorang pemuda tampan dengan pakaian pengantin dari syurga tampak berbahagia.

Lepas Isya' di sebuah perkampungan di jalur Gaza, seorang lelaki berjalan mengendap-hendap, mengetuk pintu sebuah pondok dengan hati-hati sambil mengucap salam. Wajah seorang wanita tua muncul menjawab salamnya. Tanpa menunggu lelaki itu mendahului berbicara, "Amir Syuhada telah syahid petang tadi. Dan hanya ini yang tersisa dari jasadnya, yang dipesankannya menjelang berangkat." Berkata demikian lelaki itu sambil memberikan sebuah mushaf mungil di tangannya. Wanita tua mendakap mushaf itu didadanya, seperti ia mendakap Amir kecil sewaktu tidurnya. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan yang dirasakannya hari ini. Seakan ada yang menuntun, dia berjalan menghampiri kamar puteranya. Dengan hati-hati dikuakkannya pintu kayu yang menghalanginya. Sungguh, dia mencium bau harum di kamar itu. Bau harum yang khas keharuman kamar pengantin.



Ibunda...,

Kau ucapkan selamat tinggal,

tatkala aku berangkat berjihad,

Dan kau katakan padaku,

Jadilah singa yang mengamuk meraung,

Kemudian aku berlalu,

mencatat segala pembataian dengan darahku,

Bonda jangan kau bersedih,

Kini belengguku berat Bonda,

Namun...kemahuanku tak terkalahkan,

Penjara dan siksaan mereka tak menakutkanku,

Aliran letrik tak kuasa menyengatku,

Bonda jangan bersedih,

Goncangku kanku jadikan pintu jahim,

yang meledak menghentam para musuh,

Betapapun kuatnya belenggu,

Dengan sabar dan tekad bulat kurantas belengguku,

Bonda jangan kau bersedih,

Bersabarlah Bonda,

Jika tiada lagi pertemuan,

Dan semakin panjang malam mencengkam,

maka esok kita kan hidup mulia,

Di atas negeri kita sendiri,

Bonda...jangan kau bersedih.



"Wahai, kaum muslimin! Lawan dan musuhmu berani menyerang dan menjajah kamu hanyalah kerana Allah meninggalkan kamu. Janganlah kamu mengira bahawa musuhmu telah meraih kemenangan atas kamu tetapi sesungguhnya Allah Yan Maha Pelindung dan Maha Penolong telah berpaling dari kamu. Demi Allah, musuh-musuhmu bukannya kuat, tetapi umat Islam yang lemah."

(Asy-Syahid Hasan al-Banna)



"Saya mengagumi seorang pemuda kerana keberanian dan kemahirannya dan saya mengagumi seorang pemudi kerana adab dan sifat malunya. Sebab, keberanian adalah pelengkap akhlak dan sifat utama pemuda, sedangkan malu adalah kecantikan pemudi yang paling utama."

(Mustafa Luthfi al-Manfaluthi

Tuesday, February 2, 2010

Duit Free & Untung Atas Angin Yang Haram.

Disebabkan hal dan perkara ini sentiasa berlaku di syarikat swasta dan kerajaan, saya merasakan amat baik jika artikel ini dibaca dan dihayati kembali oleh pelawat web saya. Khususnya di musim kegawatan ekonomi dan kebanyakan pekerja sedang memikirkan pelabagi kaedah dan cara untuk mencari wang sampingan dan tambahan. Beringat-ingatlah dalam mencari wang sampingan, jangan sampai menyumbat bara api neraka ke dalam mulut isteri dan anakmu.

Tajuk utama surat khabar New Straits Times pada 11 September 2007 memaparkan isu pembelian beberapa peralatan untuk kementerian tertentu dengan harga luar biasa.

Hal ini terbongkar apabila pihak Ketua Audit Negara melakukan tugasnya dengan telus dan baik, lalu mendedahkan penyelewengan ini.

Antara yang diketengahkan oleh media ini adalah :-

1) Buku yang sepatutnya berharga RM 417 menjadi RM 10,700.

2) Screwdriver yang sepatutnya berharga RM 32 menjadi RM 224.

3) Set lengkap komputer meja (desktop) yang sepatutnya berharga RM 174,811 menjadi RM 3.06 juta (Kementerian Belia & Sukan).

4) Karipap yang sepatutnya berharga 30 sen satu menjadi RM 3 bagi satu karipap.

5) Dua kamera 3.1 Megapixel yang sepatutnya berharga RM 2,990 menjadi RM 8,254.

6) Faber Castell pens yang sepatutnya berharga RM 160 menjadi RM 1,146.56.

7) Dua krane yang sepatutnya berharga RM 2.98 juta menjadi RM 5.72 juta.


Secara mudahnya kita dapat mengagak bahawa kes di atas berlaku disebabkan oleh salah satu sebab berikut :-

*
1) Penipuan oleh pegawai bertanggungjawab yang mengambil keuntungan atas angin.
*
2) Rasuah menyebabkan harga termasuk harga bayaran rasuah.
*
3) Salah teknikal dan pengiraan.

Menurut Islam, jika ia berlaku dengan sebab item 1 dan 2, sudah tentu hukumnya haram. Dalil pengharaman rasuah adalah :-

1) Firman Allah s.w.t

وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Ertinya : " Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui." ( Al-Baqarah : 188 )

2) Disebutkan dalam hadith :-

لَعَنَ رسول اللَّهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ في الْحُكْمِ

Ertinya : "Rasulullah s.a.w telah melaknat pemberi rasuah dan penerima rasuah dalam penetapan keputusan (pemerintahan, pentadbiran, kehakiman dll)" ( Riwayat At-Tirmidzi, 3/622 : Imam Tirmidzi berkata : Hadis Hasan Sohih)

Manakala dalil pengharaman penipuan juga sangat jelas dalam urusan perniagaan secara umum, iaitu :-

1) Sebuah hadis :-

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ مَرَّ على صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فيها فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فقال ما هذا يا صَاحِبَ الطَّعَامِ قال أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يا رَسُولَ اللَّهِ قال أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ الناس من غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

Ertinya : "Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. pernah melalui seorang laki-laki yang sedang menjual makanan (biji-bijian). Baginda sangat mengaguminya, kemudian memasukkan tangannya ke dalam tempat makanan itu, apabila dilihatnya makanan itu nampak basah, maka bertanyalah beliau: Apa yang dilakukan oleh pemilik makanan ini? Ia menjawab: Kena hujan. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Mengapa tidak kamu letakkan yang basah itu di atas, supaya orang lain mengetahuinya?! barangsiapa menipu , bukanlah (mereka) dari golongan kami (Islam)" (Riwayat Muslim, 1/99)

2) Pernah juga di riwayatkan bahawa :-

إن الله إذا حرم شيئا حرم ثمنه

Ertinya : Sesungguhnya Allah apabila telah mengharamkan sesuatu maka akan haram jugalah harga jualan (keuntungan yang terhasil dari yang haram) ( Ar-Rawdu Al-Murabba', 2/30 ; Riwayat Ibn Hibban, 11/312 )

3) Nabi SAW juga pernah mencela orang Yahudi yang apabila diharamkan memakan daging babi dan lain-lain, mereka membuat helah dengan mengambil lemaknya dan dihiaskan lalu dijualnya. Apabila Nabi mendapat tahu lalu terus berkata :-

قَاتَلَ الله الْيَهُودَ حُرِّمَ عليهم الشَّحْمُ فَبَاعُوهُ وَأَكَلُوا ثَمَنَهُ

Ertinya : "Allah akan menghancurkan Yahudi yang mana mereka ini apabila Allah mengharamkan makan lemak (babi, bangkai dan lain-lain yang diharamkan), lalu mereka membuat helah dengan menjualnya serta menikmati hasil jualannya" ( Riwayat Al-Bukhari no 2111, 2/775 ; Muslim, Baihaqi )

Hasil dari kumpulan hadis ini, bentuk tindakan yang dilakukan seperti adalah HARAM dari sudut hukum Islam jika ia benar-benar dilakukan atas dasar penipuan dan rasuah. Manakala, jika berlaku atas kesilapan teknikal, ia tidak termasuk dalam kesalahan dari sudut hukum. Ia hanya kelemahan pengurusan dan tindakan bergantung kepada pihak berwajib.

Beberapa Bentuk Lagi

Menerusi email dan soalan yang kerap saya terima, berikut adalah antara beberapa bentuk untung atas angin dan penyelewengan yang kerap berlaku dalam industri kerja samada kerajaan, swasta, NGO, Persatuan, sekolah, Parti Politik dan lain-lain organisasi :-

1) Rasuah dalam memilih : Pegawai yang bertanggungjawab memilih kontraktor untuk iklan, pembersihan, latihan dll untuk syarikat atau organisasinya. Pihak pegawai memilih syarikat 'Z' dari empat syarikat lain yang menghantar 'quotation' kerana oleh syarikat 'Z' itu berjanji memberikannya sedikit imbuhan 'ikhlas'.

Hukum : Ia adalah haram dan rasuah dalam Islam.

2) Mencipta 'quotation' sendiri : Pegawai atau kumpulan pegawai yang diberi kuasa membuat pemilihan kontraktor untuk syarikat. Dia atau mereka sepakat untuk memberinya kepada satu syarikat yang mereka kenali bukan kerana kualiti dan harganya tetapi kerana sebab-sebab lain. Disebabkan oleh prosedur syarikat yang memerlukan terdapat 'quotation' dari minimum daripada empat buah syarikat. Pegawai ini telah mencipta beberapa 'quotation' dari syarikat yang tidak wujud bagi menunjukkan

Hukum : Haram kerana menipu.

3) Menaikkan Harga : Pegawai diminta oleh majikan untuk mencari pembekal bahan mentah, pegawai berjaya mencari dengan harga RM 1500 tetapi menaikkannya kepada RM 2000, lalu baki RM 500 diambilnya.

Hukum : Ia adalah haram sepakat ulama.

4) Menang Tender Bersyarat : Pelaburan Pegawai diminta oleh majikan mencari kontraktor untuk 'renovation' pejabat atau apa jua aset syarikat. Pegawai telah mengempen syarikat 'B' kepada majikan disebabkan dia telah mempunyai perjanjian di sebalik tabir dengan pihak syarikat "B' yang memberikannya izin untuk melabur wang peribadinya dalam syarikat 'B' dengan kadar keuntungan mengikut Islam 'kononnya'. Padahal, jika tiada peluang 'melabur' itu, sudah pasti pegawai tidak akan mengempen syarikat 'B'.

Hukum : Tindakan sebegini adalah haram dalam Islam dan ia termasuk dalam rasuah bentuk baru dan berselindung disebalik aktiviti pelaburan Islam.

5) Tuntutan Palsu : Pegawai membeli barang keperluan syarikat atau mengisi minyak dengan harga tertentu tetapi berpakat dan memohon pembekal atau stesyen minyak mengeluarkan resit dengan jumlah berbeza dari jumlah pembeliannya. Berbekalkan resit itu, pegawai membuat tuntutan kepada syarikat dengan harga berlipat kali ganda. Ini yang berlaku dalam kes-kes di atas.

Hukum : Ia adalah haram menurut Islam kerana penipuan kepada syarikat. Pihak pembekal juga berdosa kerana dikira bersubahat mengeluarkan resit berjumlah palsu itu.

6) Resit Harga Ciptaan : Pegawai membeli barang untuk kegunaan syarikat dari satu kedai, dan kedai tersebut enggan bekerjasama untuk menaikkan harga dalam resit. Bagi meraih keuntungan, pihak pegawai telah mencipta resit sendiri berserta cop palsu.

Hukum : Ia adalah haram dalam Islam kerana penipuan.

7) Ambil Untung Sendiri : Pegawai diberi oleh syarikat 'budjet maksima' sebanyak RM 5000 untuk membeli satu barangan keperluan syarikat. Pegawai berjaya mencari di pasaran terbuka barang yang diperlukan dengan harga RM 4000 sahaja. Bagi mendapat manfaat, si pegawai telah berpakat dengan penjual agar dituliskan harga RM 5000 dalam invoice dan baki RM 1000 hendaklah diberi kepadanya.

Hukum : Ia adalah haram kerana penipuan dan wang khianat sebagaimana yang disebut oleh Nabi Muhammad s.a.w. Bagaimanapun, jika ia berterus terang dengan majikan sambil memohon sebarang insentif atas kejayaannya mengurangkan kos syarikat kerana kecekapannya mencari barang yang lebih murah, tatkala itu, majikan harus memberikannya jika ia tidak menyalahi mana-mana undang-undang syarikat. Jika tidak, majikan akan mengambil kira kejayaan itu dan membayarnya dalam bonus dan kenaikan gaji apabila sampai waktunya sahaja.

8) Guna Khidmat Syarikat Sendiri : Soalannya seperti berikut : - "Saya bekerja dengan majikan, dalam masa yang sama membuat perniagaan membekal barang-barang untuk majikan menggunakan syarikat saya tanpa pengetahuan majikan?"

Hukum : Ia lebih cenderung kepada hukum haram terutamanya jika anda menggunakan kuasa anda sebagai pegawai yang diberi tanggungjawab untuk mempengaruhi keputusan pemilihan pembekal.

Walaubagaimanapun jika majikan telah diberitahu dan mereka bersetuju tanpa sebarang syarat-syarat seperti rasuah seperti 'mesti memberikan komisyen kepadanya pula' ; maka ia boleh dikira harus dan halal, terutamanya apabila syarikat anda memang punyai kualiti dan mampu menawarkan harga kompetitif berbanding syarikat pembekal lain.

Wang Yang Diperolehi Dari Kerja Yang Telah Diberi Gaji

Saya faham, ramai yang cuba mendapatkan 'side income' dari cara-cara yang disebut di atas, sambil melakukan tugasannya yang wajib. Ingatlah dua hadis berikut :-

a) Nabi bersabda :

" Barangsiapa yang telah kami ambil untuk melakukan sesuatu kerja, dan telah ditetapkan baginya sesuatu rezeki (gaji atau upah), maka apa yang diambilnya selepas itu adalah ghulul (pengkhianatan) " ( Riwayat Abu Daud, no 2943, Albani : Hadith Sohih ; Ma'alim as-Sunan, Al-Khattabi, 3/8 cet Dar Kutub Ilmiah)

b) Nabi bersabda kepada seorang gabenornya yang telah ditugaskan mengutip zakat kabilah Azad, maka apabila ia selesai kerjanya dan kembali berjumpa Nabi, lalu ia menyimpan sebahagian dari wang yang dikutip sambil berkata :

"ini untukmu ( bahagian untuk Islam) dan ini untukku yang diberikan sebagai hadiah (oleh orang ramai), maka jatuh murka Baginda sambil bersabda :" Ketahuilah, pergilah kamu duduk di rumah bapamu atau ibumu, sehingga datang kepadamu hadiahmu, jika kamu benar-benar betul (layak mendapat hadiah)" ( Al-Bukhari & Muslim )



KESIMPULANNYA

Sebagai akhirnya, banyak sungguh soalan seperti kes-kes di atas sampai kepada saya. Malangnya amat ramai juga yang terlibat tanpa memikirkan halal haram tindakannya. Hanya berbekalkan keyakinan tanpa ilmu dan palsu, mereka meraih keuntungan untuk digunakan oleh diri dan keluarga. Pastikan ia akan memberikan padah baginya di dunia dan akhirat, selain menjadi punca doa menjadi pudar dan tidak ingin didiengari oleh Allah s.w.t.

PENUTUP

Nabi Muhammad mengingatkan kesan harta haram terhadap munjat dan doa seseorang :-

الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلى السَّمَاءِ يا رَبِّ يا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Ertinya : menyebut tentang seorang pemuda yang bermusafir dalam perjalanan yang jauh, hal rambutnya kusut masai, mukanya berdebu di mana dia mengangkat tangan ke langit : Wahai Tuhanku...wahai Tuhanku... sedangkan makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram..Dan dia dibesarkan dengan memakan makanan haram maka bagaimana Kami mahu mengabulkan doanya. ( Riwayat Muslim, no 1015, 2/703 ; hadis sohih)

Apabila wang dan pendapatn menjadi haram, doa tiada lagi dilihat dan diterima oleh Allah swt. Ibu kepada segala jenis doa adalah solat. Apabila solat sudah tidak lagi diterima, runtuhkan sensitiviti dan antenna agama dari dirinya, menyebabkan ia sesat dan terus menjauh dari Allah swt, menuju ke majlis hina bersama para iblis dan Syaitan. Moga dijauhkan Allah.

sekian

Zaharuddin Abd Rahman

www.zaharuddin.net

ORIGINAL ARTICLE : -http://www.zaharuddin.net/content/view/597/72/

Monday, January 18, 2010

hukum berburu di tanah haram

Soalan:
"Apakah hukumnya berburu di tanah haram atau dalam ihram?
Dan bolehkan kita membunuh binatang berbisa dalam ihram atau dalam tanah haram?"

Jawapan:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( خَمْسٌ مِنَ اَلدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَواسِقٌ, يُقْتَلْنَ فِي اَلْحِلِّ وَ اَلْحَرَمِ: اَلْغُرَابُ, وَالْحِدَأَةُ, وَالْعَقْرَبُ, وَالْفَأْرَةُ، وَالْكَلْبُ اَلْعَقُورُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

i. Terjemahan Hadith

Dari 'Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Ada lima binatang yang semuanya fasiq(berbahaya), yang boleh dibunuh sama ada di tanah halal dan tanah haram, iaitu: kala jengking, burung helang, burung gagak, tikus dan anjing liar." Muttafaq Alaihi.

ii. Haraian Perkataan

اَلدَّوَابِّ : bentuk jama’ dari daabah iaitu binatang melata di atas muka bumi.Asal maknanya ialah semua binatang yang melata atas muka bumi ini kemudian kebiasaan yang umum mengkhususkan kepada binatang yang berkaki empat seperti kuda,baghal(kacukan kuda dan keldai),dan himar.Dinamakan binatang-binatang ini binatang pengangkutan.

Manakala dinamakan burung helang dan gagak sebagai الدابة kerana binatang-binatang ini hidup melata dan liar.

كُلُّهُنَّ فَواسِقٌ : Perkataan jama’ yang asalnya فاسق bererti derhaka dan keluar dari ketaatan.Disifatkan semua binatang ini sebagai َ فَواسِق kerana kefasikan yang khusus iaitu binatang ini keluar dari hukum tidak sebagaimana binatang-binatang yang lain iaitu merbahaya dan berbisa.

يُقْتَلْنَ : Dhomir kembali kepada sabda Rasulullah SAW “Lima” bukan kembali kepada “Semua”.

اَلْحِلِّ : Tanah yang berada di luar tanah haram di mana dibolehkan di sana untuk berburu makan dan membunuh binatang buruan.

اَلْحَرَم : Ialah tanah haram Makkah iaitu dalam sempadan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala melalui rasulNya Nabi Muhammad SAW dan kerajaan Saudi pada tahun 1410 Hijriah telah selesai membuat kajian dan meletakkan tanda yang menandakan sempadan tanah haram dan halal.

Berikut adalah jarak dari masjidilharam ke sempadan tanah halal melalui jalan-jalan utama:

1. Jalan menuju ke Taif melalui Arafah adalah 19KM.

2. Jalan menuju ke Najd dan Iraq ialah 11KM.

3. Jalan menuju ke Ja’aranah ialah 15KM.

4. Jalan menuju ke Madinah al Munawwarah melalui Tanaim 7KM.

5. Jalan menuju ke Jeddah 23KM.

6. Jalan menuju ke Yaman 9KM.

Sesiapa yang berada dalam lingkungan kawasan tersebut hendaklah mengikut peraturan dan pantang larang yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala.

َالْعَقْرَبُ : Kalajengking.Binatang kecil yang termasuk juga labah-labah.Ia binatang berbisa mempunyai racun di sengatnya.

الْحِدَأَةُ : Burung helang yang kebiasaan menyambar ayam dan makanan-makanannya yang lain.

اَلْغُرَابُ : Dimaksudkan dengan burung gagak di sini ialah burung gagak yang berbintik-bintik.Dan ada antara hadith yang diriwayatkan oleh Muslim “الأبقع” iaitu berwarna putih di punggung dan perutnya.

َالْفَأْرَةُ : Ia merangkumi semua jenis tikus sama ada yang kecil atau besar.

الْكَلْبُ : Anjing binatang yang popular dan dapat mengenalinya dengan perbezaan warna dan bentuknya.Sebahagian dari jenis-jenisnya termasuk dalam binatang peliharaan dan ia adalahbinatang karnivor.

اَلْعَقُورُ : Binatang buas yang menggigit dan melukakan pemangsa sama ada manusia atau binatang.

iii. Fiqh Hadith

1. Harus membunuh lima jenis bintang yang disebutkan dalam hadith di atas mengikut sepakat semua Ulama’ dan yang menjadi khilaf di kalangan mereka ialah tujuan untuk membunuhnya.

2. Dibolehkan membunuh binatang atau serangga yang merbahaya seperti ular,serigala,singa,helang,jengking dan kera berdasarkan hadith di atas di mana diharuskan membunuhnya kerana ia memberi bahaya kepada manusia.

3. Mazhab Hanafi berpendapat hanya lima jenis binatang di atas sahaja yang dibolehkan untuk membunuhnya.

Manakala pendapat jumhur ulama’ membolehkan tidak terhad kepada lima jenis ini sahaja malah kepada semua binatang atau serangga yang boleh merbahaya.

Lima binatang yang disebutkan dalam hadith adalah sebagai contoh sebagaimana difahami oleh sebahagian besar Ulama’ Usuliyyin bahawa jumlah atau bilangan tidak dikira hujah.

Dan pendapat jumhur adalah sohih.

4. Orang yang berihram dan selainnya boleh membunuh binatang apa yang boleh memberi bahaya kepada manusia mengikut adatnya seperti ular,jengking dan tikus.Dia hendaklah mencegah apa yang boleh memberi bahaya kepada manusia dan binatang andai menyerang salah seekor darinya dan tidak dapat mempertahankan diri kecuali dengan membunuhnya hendaklah membunuhnya.

Sesungguhnya Nabi SAW telah bersabda:

( من قتل دون ماله فهو شهيد ومن قتل دون أهله فهو شهيد ومن قتل دون دينه فهو شهيد ومن قتل دون دمه فهو شهيد)...رواه أحمد 1652

Sesiapa yang terbunuh demi mempertahankan hartanya maka ia mati syahid,dan sesiapa yang terbunuh ahli keluarganya maka ia mati syahid,dan sesiapa yang terbunuh kerana agamanya maka ia mati shahid,dan sesiapa yang terbunuh kerana mempertahankan darahnya maka ia mati syahid.(HR Ahmad 1652)

iv. Pengajaran Hadith

1. Dikaitkan di sini dengan anjing liar kerana anjing peliharaan tidak dibolehkan untuk membunuhnya sebagaimana ditegaskan oleh Imam Nawawi dalah syarah Muahadzab.

2. Berdalilkan dengan hadith di atas bahawa diharamkan kepada kita lima jenis binatang yang disebutkan dalam hadith untuk memakannya.

3. Haiwan terbahagi kepada empat jenis:

a) Haiwan yang tabiatnya membahayakan kita:Disyariatkan untuk membunuhnya tanpa dikenakan fidyah.

b) Haiwan yang tidak dimakan dan tidak member bahaya:Makruh untuk memakannya dan tidak dikenakan fidyah sekiranya membunuhnya dalam tanah haram dan dalam ihram.

c) Haiwan yang dipelihara:Seperti lembu dan kambing,harus untuk menyembelihnya dalam segenap hal.

d) Haiwan liar yang boleh dimakan:Iaitu haiwan buruan.Sesiapa yang memburunya dalam tanah haram atau dalam ihram berdosa dan dikenakan dam.


Friday, January 8, 2010

Perbezaan solat lelaki dan perempuan

Soalan
Adakah ada perbezaan antara cara solat lelaki dan perempuan?

Jawapan

1)Mengikut pendapat Syekh Uthaimin,tiada perbezaan cara solat antara lelaki dan perempuan kerana hadith Rasulullah SAW :
صلوا كما رأيتموني أصلي
Maksudnya: "Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat Aku sembahyang".

Jadi di sini tiada pengkhususan antara lelaki dan perempuan cara solat iaitu satu cara sahaja sebagaimana solat Rasulullah SAW.

2)Mengikut pendapat mazhab Syafie terdapat perbezaan antara cara solat lelaki dan perempuan pada lima tempat.Perbezaan ini adalah ijtihad Imam Syafie.Sebagaimana kita ketahui bahawa ijtihad mujtahid juga merupakan salah satu dari sumber hukum.Perbezaan tersebut ialah:

i)Cara rukuk lelaki dan perempuan berbeza.Di mana kaum lelaki dibuka tangan manakala wanita ditutup.

ii)Cara sujud : Orang lelaki membuka tangan dan wanita sebaliknya.

iii)Bacaan kuat pada solat-solat tertentu iaitu subuh,maghrib dan isya'.
Orang lelaki disunatkan menguatkan bacaan manakala wanita sebaliknya.

iv)Menegur kesilapan Imam : Orang lelaki menegurnya dengan bertasbih " سبحان الله".
Manakala wanita menegurnya dengan menepuk tangan.

v)Aurat dalam sembahyang:Di mana aurat bagi lelaki adalah antara pusat dan lutut.
Manakala wanita pula adalah seluruh badan kecuali muka dan dua tapak tangan.

Wallahu 'alam.

Monday, January 4, 2010

وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ Tidak bertengkar dalam haji

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Maksudnya: (Masa untuk mengerjakan ibadat) Haji itu ialah beberapa bulan yang termaklum. Oleh yang demikian sesiapa yang telah mewajibkan dirinya (dengan niat mengerjakan) ibadat Haji itu, maka tidak boleh mencampuri isteri, dan tidak boleh membuat maksiat, dan tidak boleh bertengkar, dalam masa mengerjakan ibadat Haji.

Sabda Rasulullah SAW:
من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه))
Sesiapa yang mengerjakan haji kerana Allah,tidak mencarut dan tidak bercakap sia-sia maka(ganjarannya) seolah kembali(suci) seperti baru keluar dari perut ibunya.

Jelas dalam ayat ini melarang kita dari berjidal atau bertengkar semasa mengerjakan haji.Cuma menjadi persoalan apakah yang dimaksudkan dengan jidal di sini.InsyaAllah akan saya datangkan pendapat para ulama’ dan mufassirin berkenaan dengan terjemahan jidal,semoga kita tidak menterjemahkannya mengikut hawa nafsu tanpa ilmu.

Khulasah dari Tafsir Jami’ul Bayan oleh Imam Tobari:

1.{ القول في تأويل قوله تعالى : { وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
Tafsir bagi ayat ini ialah:

a. Berkata Abu Ja’afar:Ahli tafsir berselisih pendapat maksud berjidal dalam haji.
Ada yang berpendapat:Maksudnya ialah larangan kepada orang yang berihram daripada bertengkar dengan sesiapa sahaja.

Kemudian ahli tafsir berselisih pendapat tentang pendapat ini.

Sebahagian dari mereka berpendapat bertengkar di sini ialah berjidal dengan sahabatnya sehingga menimbulkan kemarahan sahabatnya.

b. Maksud jidal ialah mengumpat.

c. Jidal ialah:Dahulunya orang Quraisy apabila berkumpul di Mina mereka akan berkata, “ Haji kami lebih sempurna dari haji kamu”.Mereka yang lain pula berkata , “Haji kami lagi sempurna dari haji kamu”.

d. Jidal ialah bertengkar seperti haji jatuh pada hari ini dan yang lain menafikannya.

e. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من قضَى نُسُكَه وسلِم المسلمون من لسانه ويده، غفر له ما تقدم من ذنبه
Maksudnya: "Sesiapa yang mengerjakan haji dan saudara muslimnya selamat dari lidah dan tangannya maka akan diampunkan dosanya yang telah lalu".

2. Rumusan dari Kitab Tafsir Mafaatihul Ghaib oleh Imam al Razi

a. Terdapat pandangan yang mencela sesiapa saja yang sibuk mencari dalil,membuat kajian dan berjidal(bertengkar dan berselisih pendapat) dalam haji.
Pandangan ini merujuk kepada firman Allah Taala: { وَلاَ جِدَالَ فِي الحج } iaitu tidak dibenarkan berjidal di dalam haji. Jidal di sini merangkumi semua jenis jidal, walau jidal dalam agama sekalipun kerana jika jidal dalam agama dibenarkan dan dikira sebagai ketaatan, sudah tentu jidal semasa haji tidak dilarang (tidak digunakan lafaz jidal iaitu guna ungkapan yang lain seperti belajar,berbincang atau sebaginya). Umpamanya, jika jidal dalam agama dikira sebagai ketaatan, lebih utama dihimpunkan bersama ibadat haji yang lain malah tidak perlu pula dalil larangan jidal yang dikemukakan.

b. Jumhur ulama’ mutakallimin berpendapat jidal dalam soal agama adalah ketaatan yang besar berdalilkan firman Allah ta’ala:

{ ادع إلى سَبِيلِ رَبّكَ بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هِىَ أَحْسَنُ }
Maksudnya:Serulah ke jalan Tuhanmu (wahai Muhammad) dengan hikmat kebijaksanaan dan nasihat pengajaran yang baik, dan berbahaslah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik… َ

Bersambung…(mengantuk sangat2 dah,pukul 3am sekarang)

Friday, December 25, 2009

TAWAF WADA'@WIDA' : PERSOALAN DAN RUNGKAIAN

Tawaf wada' atau wida' ialah tawaf selamat tinggal baitiilahil haram.

Timbul banyak persoalan di sini.

Adakah wajib bagi kita mengerjakannya atau sunat hukumnya untuk mengerjakannya?

Adakah saya balik ke Jeddah atau Yanbu dikenakan dam atau tidak?

Saya pergi ke masjid terapung Corniche,dikenakan dam atau tidak?

Jadi di sini saya ada membuat sedikit ringkasan tentang hukum hakam yang berkaitan dengan tawaf wada' dan membawakan pendapat yang terbaru dari ulama' mu'asoroh.
semoga ianya dapat membantu serba sedikit kepada saya dan anda semua...

Pertama sekali apa hukumnya tawaf wada'...Ulama berselisih pendapat tawaf wada':

1)Wajib; dan sesiapa yang meninggalkannya dikenakan dam.

-Mazhab hanafi,Hanbali,Syafie dan Jumhur ulama.
-Dalilnya:
(لا ينفرن احد حتى يكون آخر عهده بالبيت)
Maksudnya:"Janganlah seseorang itu meninggalkan (baitillaharam) sehinggalah diakhiri dengan baitillahilharam(tawaf wada')".
* orang yang haidh boleh meninggalkannya dan menjadi rukhsah baginya.

2)Sunat

-Mazhab:Pendapat Imam Malik,Daud dan Ibn Munzir dan salah satu dari pendapat mazhab Syafie.
- Dalilnya : orang yang datang haidh tidak diwajibkan mengerjakannya.

Kedua : Jikalau seseorang itu melewatkan tawaf ifadhahnya sehingga tiba waktu pulang maka terangkat tawaf wada' iaitu tidak wajib ia mengerjakannya.

Ketiga: Waktu tawaf wada'

1)Apabila sudah selesai mengerjakan semua amalan haji dan hendak meninggalkan Makkah.

2)Pendapat Jumhur(kebanyakan)Ulama:Sesiapa yang sibuk berjual beli atau masih tinggal di situ selepas dari tawaf wada' maka wajib dia mengulanginya.
*Dan Imam Abu Hanifah berpendapat tidak wajib mengulanginya.

Keempat:Adakah tawaf wada' salah satu dari Manasik haji atau ibadah yang terpisah dari ibadah haji?

1)Pendapat dari mazhab Hanafi,Imam Haramain dan Imam Ghazali dari mazhab Syafie berpendapat ia termasuk dalam manasik haji.

Dalilnya:
Rasulullah menyuruh para sahabat menunaikan tawaf wada' ketika haji wada',sedangkan sebelum itu Rasulullah telah mengerjakan umrah sebanyak empat kali tetapi tidak menyuruh para sahabat mengerjakannya.

2)Imam Rafie dan Nawawi juga dari mazhab Syafie berpendapat ia bukan daripada manasik haji tetapi satu ibadah yang berasingan dari ibadah haji.

Ia dikuatkan oleh Syeikh Ibn Taimyah dalam fatwanya.

Dalilnya:
Ia tidak diwajibkan kepada ahli Makkah tetapi wajib kepada orang yang datang dari luar Makkah.

Kelima:Siapakah yang diwajibkan untuk mengerjakan tawaf wada'?

1)Wajib bagi sesiapa yang ingin meninggalkan bandar Makkah untuk kembali ke tempat tinggalnya sama ada dalam tanah haram atau luar - Pendapat mazhab Syafie.

2)Wajib bagi sesiapa yang ingin meninggalkan tanah haram manakala sesiapa yang tinggal dalam tanah haram tidak diwajibkan mengerjakannya - salah satu dari pendapat mazhab Hanbali.

3)Wajib bagi sesiapa yang ingin meninggalkan Makkah ke tempat yang lebih dari dua marhalah. Jika tidak sampai dua marhalah maka tidak wajib. - Pendapat imam Bughawi.

4)Tidak wajib tawaf wada' kecuali bagi orang yang tinggal luar dari miqat.- Pendapat mazhab Hanafi.

5)Tidak wajib mengerjakannya bahkan sunat sahaja iaitu pendapat Imam Malik.

6)Bagi pendapat yang mewajibkannya maka jika meninggalkan tafaf wida' itu wajib dikenakan dam. Kecuali Imam Ibn Munzir berpendapat wajib tetapi tidak dikenakan apa-apa jika meninggalkannya.

Rumusan yang boleh saya simpulkan di sini:

1)Mazhab Hanafi

Sesiapa yang tinggal dalam kawasan miqat seperti Jeddah dan Bahrah tidak wajib ke atas mereka tawaf wada' kerana mengikut pendapat mazhab Hanafi bahawa orang yang tinggal di kawasan tidak melebihi miqat atau tinggal di Makkah ialah orang yang tidak akan putus mengunjungi masjidil haram.

2)Mazhab Maliki

Tidak wajib mengerjakannya kerana hukumnya sunat dan tidak dikenakan apa-apa jika meninggalkannya.

3)Mazhab Syafie dan Hanbali

Wajib mengerjakannya!!!


Keenam : Hukum Sesiapa yang keluar meninggalkan Makkah kemudian pulang semula untuk mengerjakannya.

1)Mazhab Syafie dan Hanbali

Ada dua keadaan bagi sesiapa yang keluar dari tanah haram tanpa tawaf wada':

i)Tidak sampai dua marhalah:maka wajib pulang dan tawaf maka tidak dikenakan apa - apa dam.
ii)Melebihi dua marhalah:Maka tidak wajib dia pulang ke Makkah. Sekiranya pulang maka hendaklah berihram umrah.Apabila selesai umrah hendaklah tawaf wada'.Dan wajib membayar dam.

2)Mazhab Hanafi

Wajib pulang jika tidak sampai dua marhalah.Sekiranya melebihi dua marhalah tidak wajib ia pulang semula ke Makkah.Jika dia hendak pulang ke mekah maka hendaklah berihram umrah,tawaf wada' dan tidak dikenakan apa-apa dam.

Ketujuh : Hukum masuk ke Makkah tanpa melakukan umrah.

Menurut Syeikh Said Abdul Qadir Basyanfar : Tidak wajib seseorang itu memakai ihram jika masuk ke Makkah bukan untuk menunaikan umrah atau haji kerana Imam Bukhari sendiri merekodkan dalam sohihnya : Bab Masuk ke Tanah Haram dan Makkah Tanpa Ihram. Dan Ibn Umar telah masuk(Makkah)tanpa berihram.
Sesungguhnya Rasulullah SAW telah menyuruh (para sahabat) bertalbiah (dalam keadaan berihram) bagi sesiapa yang ingin mengerjakan haji dan umrah.Tidak disebut selain dari haji dan umrah untuk berihram.

Kelapan:Hukum tawaf wada' bagi sesiapa yang tinggal di Jeddah dan selainnya di Negara Saudi

1)Menurut pendapat yang rajih : Wajib bagi ahli Jeddah dan selain mereka mengerjakan tawaf wada' sebagaimana pendapat mazhab Syafie dan Hanbali.

2)Maliki:Sunat

3)Hanafi : tidak wajib jikalau dalam kawasan miqat.


Kesembilan: Hukum Ahli Jeddah dan selain mereka yang pulang ke daerah masing-masing kemudian kembali untuk mengerjakan tawaf wada'.

1)Syafie dan Hanbali : wajib Sebagaimana yang diterangkan di atas.

2)Pendapat yang Rajih Wallahu 'alam :

Tidak dikenakan dam bagi sesiapa yang pulang untuk tawaf wada' sama ada tinggal di Jeddah atau tempat yang tidak sampai dua marhalah atau lebih dua marhalah seperti Jizan atau madinah.

Dalilnya :

i)Orang yang tinggal tidak sampai dua marhalah jika pulang mengerjakannya tidak dikenakan dam mengikut semua pendapat.
Maka sama juga hukumnya orang yang tinggal lebih dari dua marhalah.Sesiapa yang membezakannya hendaklah membawa dalil yang menjelaskan ia hukum yang berbeza.

ii)Jika dikatakan : Tawaf wada' adalah wajib.Jika dia telah datang kembali menunaikannya maka tidak wajib keatasnya membayar dam kerana tawaf tersebut telah dilakukan.Hukum orang jauh atau dekat adalah sama.

iii)Mazhab Syafie dan Hanbali: Sesiapa yang pulang ke tanah airnya sebelum tawaf ifadhah, wajib ke atasnya datang kembali ke Makkah dan bertawaf ifadhah lalu tidak dikenakan apa-apa dam.

Imam Nawawi berkata dalam kitab Majmu' : Dalil kami , asalnya tidak dikenakan dam sehingga ada dalil yang mewajibkannya(bayar dam).

Maka sama masalahnya dengan tawaf wada'.

iv)sebagaimana yang kita ketahui sesiapa yang hendak mengerjakan umrah atau haji tetapi telah melepasi miqat tanpa berihram,boleh kembali semula ke miqat dan berihram di sana maka tidak dikenakan sebarang dam.
Jadi sama sahaja masalah ini dengan masalah tawaf wada'.

v)Sesiapa yang mewajibkan dam dan tetap mengenakan dam walaupun datang kembali mengerjakan tawaf wada' serta membezakan antara mereka yang bermusafir sampai dua marhalah dan tidak sampai adalah tidak berdalil.

vi)Sesiapa yang keluar dari Makkah ke Jeddah atau tempat yang lain dengan niat untuk datang lagi mengerjakannya lebih utama untuk tidak dikenakan dam dari orang yang tinggal tidak sampai dua marhalah tanpa niat untuk kembali mengerjakannya.

Sunday, October 18, 2009

Semoga aku dapat mencontohi Rasulullah dan insan ini bila bergelar ayah nanti insyaallah

Ayah Membawakan Bekal Ke Sekolah

Ini adalah salah satu kebiasaan Al Banna yang mungkin jarang dilakukan oleh para ayah. Beliau memberi bantuan , penjagaan dan perhatian kepada anak-anak nya hingga dalam sekolah, menjadikan anak - anak mereka merasa bahwa mereka selalu dalam perhatian ibu bapanya. Jika seorang anak merasa bahwa dirinya adalah nombor satu dalam hati ibu dan ayahnya, maka ia adalah sebab utama keberkesanan dalam mendidik mereka. Tentang perhatian Imam Hasan Al Banna terhadap anak-anaknya dan bagaimana penjagaan Al Banna pada mereka diceritakan oleh Saiful Islam(anak lelaki hasan al banna - anak yg kedua) :
“Aku tidak melebihkan dalam masalah ini, ketika aku nyatakan bahwa ayah adalah pemimpin rumah tangga paling ideal. Sejak aku masih kecil dan masih kanak-kanak aku belum pernah merasakan ayah kurang memberi perhatian atau kasih sayang pada kami atau kurang memikirkan masalah kami. Kami merasa sangat ta'jub ketika kami merasa di saat ini kami sendiri masih belum mencapai seperti apa yang dilakukan oleh ayah pada kami.”

Berkata Ir. Roja Hasan Al Banna(anak perempuan hasan albanna yg ke3), “Aku ingat, ayah-semoga Allah merahmatinya- selalu membawakan makan pagi ke sekolah taman kanak-kanak(tadika) ketika usiaku lima tahun. Ini kerena perhatiannya padaku amat besar agar aku dapat makan pagi. Ketika itu aku memang sering lupa membawa roti untuk sarapan pagi ke sekolah, atau mungkin kerana makananku diambil oleh teman-teman di sekolah. Ayah sangat berusaha untuk membawa makan pagi itu setiap hari ke sekolah meskipun aku tahu kesibukannya di luar sana. Tapi beliau tetap tidak lupakan kami...”

Kesan dari sikap ayah melayan kami sedemikain rupa menyebabkan hubungan dan kecintaan kasih sayang antara kami sangat kuat. Roja menambah “Kami sangat mencintai ayah...sangat cinta. Kami mentaati keinginannya kerana kami cinta padanya, bukan kerana kami takut padanya. Bila mana ayah meninggalkan kami buat selama - lamanya kami semua sangat merasa kehilangan. ..